Bumbung jadi pelindung tiba tiba runtuh jadi pembunuh.
Memberi aku pisau untuk mudah menebas hutan, memberi laluan pada aku mencari kehidupan. Terasa hati seperti baru dilahirkan, merasa diri lebih diperlukan, tapi dia menanam pisau didalam perut, hati tak bernyawa bagai leher terjerut, menangis teresak bagai sedang terdesak, hatiku luka ditusuk tapi dia menidak.
Hutan tebal menutup jalanku, tapi dia menebas memberiku nafas baru, tapi ku sedar nafas lama tidak berbau, ku tak tertahan bau nafas yang baru. Diriku kuat suatu ketika dulu, bila pisau mendatang ku diam terpaku. Bagai menanam paku dalam hatiku, dia pergi langsung tak memandangku.
Dia berubah setelah dipuncak, aku dibawah terkapai mencari punca. Aku mengiya dia menidak, akhirnya pisau tumpul semula. Tak guna berair mata sedangkan dia yang berdusta, mencari punca dari diriku juga. Aku menolak tanpa melihat, dia berkata aku yang jahat. Sedangkan mata lagi menipu, inikan hati rasa tak menentu. Sudah hilang cahaya dari hatiku, lepaskan dia pergi jauh disisiku.
Yang api jadi airnya, yang air jadi serpihnya.
Kisah manusia yang tanam pisau dalam perut, yang beri paku dalam mulut.
No comments:
Post a Comment